Jumat, 28 September 2012

Petualangan Pesta Pantai (Bag 2)



Dinner berlalu tanpa ada kejadian berarti. Kami makan sandwich di kamar hotel. Aku lebih diam
sekarang, berharap Dayu akan meminta maaf atau mngucapkan sesuatu tapi dia sepertinya
terlihat menghindar terus. Aku berbaring di atas ranjang, bermaksud untuk mengistirahatkan
mataku sebentar, tapi aku pasti telah jatuh tertidur. Saat aku bangun, jam sudah menunjukkan
pukul 10:30, dan Dayu sudah tak berada di dalam kamar. Aku bergegas turun menuju emperan
belakang hotel. Orang-orang sudah ramai di sekitar hot tub, minum dan tertawa. Dayu memang
sudah berada disana, dia pasti sudah pergi dulu saat aku tertidur tadi. Beberap wanita sudah tak
memakai penutup dada lagi, dan telah banyak yang saling bercumbu dengan terang-terangan.
Suasana ini seperti layaknya pesta saat kuliah dulu, bukan sebuah pesta kantor. Dayu berjalan
menghampiriku, dia sudah dalam keadaan mabuk dan langsung memberiku sebuah pelukan
hangat.
“Sayang, tak apa-apa kan kalau aku lepaskan semua penutup tubuhku?” tanyanya.
“Apa?” aku sangat terkejut. “Semuanya?”
“Ayolah sayang, bukan masalah besar kan?,” jawabnya. “Semua orang sudah melihat
payudaraku, dan beberapa orang juga sudah melihatku telanjang saat Eddie menurunkan penutup
tubuh bawahku. Orang lain juga sudah telanjang, kita semua disini memang datang kesini untuk
bersenang-senang dan merasa nyaman.” Dayu tak menunggu responku, dia hanya berbalik dan
berjalan menuju hot-tub dan mulai melepas pentup dadanya.
Saat para pria mulai bersiul padanya, dia menurunkan penutup tubuh bagian bawahnya,
memperlihatkan pantatnya yang bulat dan kencang. Para pria yang berada dihadapannya
mendapatkan pemandangan menawan dari vaginanya, dan semua orang menatap ke arahnya saat
dengan perlahan dia mulai turun dan masuk ke dalam hot tub. Dayu menyusup diantara wanita
lain yang juga bertelanjang dada dan kemudian duduk, menurunkan tubuhnya hingga hanya
bahunya yang nampak menyembul dari atas permukaan air. Setidaknya dia membiarkan air
menutupi tubuhnya, pikirku.
Aku berjalan menuju ke bar di dekat situ dan minum beberapa botol bir dingin lalu berbincang
dengan para pria yang berada di sana. Perhatianku tertuju pada sekelompok orang di sebuah
sudut didekatku dan kulihat Melly berada dalam kelompok tersebut. Dia bertelanjang dada,
payudaranya yang kecil namun terlihat kencang tersebut nampak indah dihiasi putting yang lebih
besar dari milik isteriku dan mencuat keras. Terlihat dia sangat semangat bicara dan itu membuat
semua pria disekelilingnya tertawa.
Tiba-tiba saja dia menurunkan bagian depan dari penutup tubuh bawahnya dan memperlihatkan
vaginanya yang tercukur bersih. Para lelaki tersebut riuh menyambutnya dan mata mereka
melahap dengan rakus pemandangan indah dan gratis dihadapan mereka. Aku fokuskan
perhatianku untuk berusaha mendengar apa yang mereka perbincangkan.
“Rasanya sungguh hebat!” kudengar Melly berkata sambil menaikkan lagi penutup tubuh
bawahnya. “Sekali kamu di wax, kamu tak akan bisa berhenti lagi! Suruh kekasih kalian untuk
mencobanya.”
“Yeah, kalau kamu bilang begitu,” salah seorang pria berkata.
“Maksudku, itu memang terlihat bagus. Aku akan bilang kekasihku tentang ini.”
“Mungkin dia akan lebih merasa yakin kalau kamu melakukannya lagi,” canda salah seorang
pria.
Pria yang lainnya tertawa dengan riuh menimpalinya. Melly memutar bola matanya dengan
seksi.
“Ini, lihat yang baik,” katanya lalu menurunkan penutup tubuh bawahnya tersebut hingga ke
mata kakinya.
Sekarang telanjang bulat, dia tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya yang disambut
dengan siulan nakal para pria. Aku sedang terpesona dengan tubuh kencang milik Melly saat
telingaku mendengar seseorang dari arah hot tub berteriak,
“Ini terlalu penuh!”
“Hey Dayu, duduk dipangkuanku sini!” kata Eddie. “Biar yang lain kebagian tempat!”
Isteriku tertawa manja.
“Tapi orang-orang akan bisa melihat dadaku!”
“Bagus kan!” balas Dave, diiringi suara tawa orang-orang.
“Ayolah, lagipula kami sudah pernah melihat semuanya tadi,” jawab Eddie.
Dayu tertawa lalu berdiri, mengangkat payudaranya dari dalam air. Dia berjalan melintas dan
duduk dipangkuan Eddie, terlihat payudaranya terguncang saat dia duduk. Eddie merangkulnya
dan memegangi kedua daging payudara isteriku dengan telapak tangannya.
“Nah, begini” katanya, “Sekarang tak seorangpun yang bisa melihat payudara Dayu!”
Semua orang tertawa, termasuk isteriku. Lalu mereka kembali asik mengobrol lagi, namun
perhatianku tetap tertuju pada isteriku dan Eddie. Tangannya tetap tak dia singkirkan dari dada
isteriku, dan tak beberapa lama kemudian tangannya mulai bergerak meremas dan membelai.
Dayu bersandar ke belakang dan membisikkan sesuatu ke telinga Eddie, dan kemudian tangan
Eddie mulai memilin putingnya dengan lembut. Dayu tersenyum lebar dan mengatur posisi
tubuhnya hingga Eddie lebih leluasa meremas dan membelai payudaranya.
Aku baru saja hendak melangkah mendekati isteriku saat Nina berjalan mendekatiku dan mulai
bicara. Aku tak mau bersikap kasar, kudengar dengan seksama saat dia yang kondisinya sudah
mabuk tersebut muali bicara betapa cantik baiknya isteriku dan bagaimana senangnya dia bisa
bekerja bersama Dayu dikantor. Aku terus berusaha melirik kearah isteriku dan Eddie tapi Nina
menghalangi pandanganku. Setelah beberapa lama aku menyerah dan mengalihkan seluruh
perhatianku pada Nina. Dia terlihat sangat menarik dengan rambut ikalnya yang panjang dan
postur tubuh yang menyerupai seorang model. Dia mengenakan pakaian renang one-piece warna
hitam yang terlihat tak mampu menampung payudaranya yang begitu besar. Aku merasa nyaman
memandanginya, karena keadaannya yang mabuk jadi dia tak akan menyadarinya, atau mungkin
juga karena keadaanku yang sudah agak mabuk. Dia terus bicara tentang dirinya.
“Kamu mau melihatnya?” tiba-tiba dia bertanya padaku, menyentakkanku dari lamunan.
“Mm, melihat… nya?” jawabku, mencoba menutupi kalau aku tadi tak memperhatikanny.
“Anting pusarku! Kamu mau melihatnya?” dia mengulangi.
“Uh, tentu,” jawabku.
Aku tak begitu yakin bagaimana cara dia memperlihatkannya padaku, karena itu berada dibalik
pakaiannya, dan pada awalnya dia berusaha menyingkapkan pakaian renangnya untuk
memperlihatkan pusarnya padaku. Tapi pakaiannya tersebut sangat ketat. Setelah beberapa saat
dia kemudian menyerah, dan yang membuatku terkejut, dia mulai menurunkan tali penahan dari
bahunya. Dia turunkan hingga pinggangnya, mengekspos payudaranya yang besar dan perutnya
yang kencang.
“Lihat kan?” katanya sambil menunjuk anting di pusarnya.
“Aku rasa agak kebesaran ukurannya.”
Aku sedang berusaha agar terlihat memperhatikan antingnya, tapi mulutku menjawab dengan
terbata-bata dengan mataku yang tak mau lepas dari dadanya.
“Aw, kamu sangat manis,” jawabnya.
“Dayu sangat beruntung memilikimu!”
Kemudian dia melangkah pergi, dengan dadanya masih terekspos, meninggalkanku berpikir ada
apa dengan orang-orang ini. Tiba-tiba aku kembali teringat akan isteriku dan Eddie, lalu aku
menoleh tepat disaat kulihat Dayu sedang mengangkat tubuhnya dari pangkuan Eddie. Keduanya
terlihat berat nafasnya dan Eddie tersenyum dengan lebar. Dia bangkit dan mengangkat tubuhnya
dari dalam tub dan sekarang kulihat dia telanjang bulat, batang penis besarnya terayun-ayun
diselangkangannya.
Bayangan tubuh telanjang isteriku diatas pangkuannya segera membuatku merasa resah dan
khawatir kalau pria ini sudah menyetubuhi isteriku seperti halnya Dave. Kulihat ke arah isteriku
lagi dan kulihat dia tengah duduk di dalam hot tub dan asik mengobrol dengan salah seorang
wanita yang bertelanjang dada. Wanita tersebut menunjuk ke arah Eddie dan Dayu mengangguk,
lalu keduanya menjerit genit dan tertawa keras.
Di titik ini aku merasa sudah terlambat untuk berbuat sesuatu, dan hanya berdiri saja disana
melihat semua yang tengah terjadi. Aku mulai merasa aneh dan takut kalau aku tak lagi
memusingkan ini semua. Tanpa memberitahu isteriku, aku putuskan untuk kembali ke kamar.
Aku rasa kalau dia melihatku pergi, dia akan sadar kalau aku sudah marah Oh, ternyata aku
salah. Aku tak bisa memejamkan mata dan sangat resah.
Tiga jam berikutnya Dayu akhirnya masuk ke dalam kamar. Dia masih telanjang bulat dan
tangannya memegangi pakaian renangnya. Setelah dia mandi dan kemudian menyusulku naik ke
atas ranjang, merebahkan tubuhnya dengan punggungnya menghadap ke arahku. Aku berharap
dia akan mengucapkan sesuatu, tapi tak terdengar apapun kecuali kesunyian. Setelah beberapa
lama, aku merasa takut kalau dia jatuh tertidur akhirnya aku bicara.
“Jadi, apa yang sudah terjadi di hot tub?” bisikku.
Dia membalikkan tubuh dan memandangi ekspresi wajahku. Tangannya bergerak ke dalam
celanaku dan mulai membelai batang penisku saat dia mulai bicara.

“Oh, jangan marah sayang, tapi aku memang agak terbawa suasana. Saat aku mulai masuk ke
dalam hot tub, Eddie bergurau dengan mengatakan kalau sudah tak ada tempat lagi bagi kita
semua dan dia menyuruhku untuk duduk di atas pangkuannya. Jadi aku pindah untuk duduk di
atas pangkuannya agar semuanya mendapat tempat. Dia mulai bermain dengan payudaraku dan
itu sangat membuatku terangsang. Jadi kubiarkan dia melakukannya lebih lama lagi. Kemudian
dia menarikku lebih merapat dan aku jadi tahu kalau dia tak memakai apapun lagi, tapi sebelum
aku sempat bereaksi, dia sudah lebih dulu mendorong batang besarnya masuk ke vaginaku!”
“Dia mulai mengocoknya keluar masuk dan itu terasa sungguh indah, itulah kenapa kubiarkan
saja dia melakukannya. Dan kurasa para pria lainnya juga tahu yang sedang terjadi, karena
kemudian semuanya yang berada di hot tub memandangi kami berdua tanpa berkedip. Aku jadi
merasa malu dan berpikir untuk menghentikannya, tapi kemudian kurasakan dia menusukkan
seluruh batang penisnya ke dalam vaginaku dengan keras dan kurasakan batangnya itu
berdenyut. Kamu tidak marah, kan? Aku benar-benar tak merencanakan dia keluar di dalam tapi
itu sudah terlambat.”
Dia berhenti beberapa saat.
“Itu… bukanlah semua yang terjadi,” ucapnya agak ragu.
“Sayang, berapa pria yang memasukkan batang penis mereka ke dalam vaginamu?” tanyaku, tak
berharap dia menjawabnya.
“Yeah, sebenarnya semuanya, setidaknya sekali saja,” jawabnya.
“Tapi itu salah satu bagian dari game yang berlangsung!”
“SEBUAH GAME?” tanyaku dengan nada cukup keras, dan kocokan tangannya pada batang
penisku semakin bertambah cepat dan keras.
“Ya, setelah beberapa lama kemudian,” sambungnya, “Kami semua sudah benar-benar mabuk.
Maksudku sangat, sangat mabuk. Dan berikutnya hanya tinggal Kristin, Melly, Nina dan aku saja
yang berada dalam hot tub bersama dengan semua pria. Dan beberapa pria mulai berdebat
tentang batang penis siapa yang paling besar. Lalu Melly menyarankan biar para wanita saja
yang memutuskan.”
“Kemudian para pria mulai melepas celana mereka dan membiarkan para wanita melihatnya.
Sayang, aku tak tahu apakah aku memang sudah sangat mabuk atau bagaimana, tapi kulihat
mereka semua sangat besar! Bahkan yang paling kecilpun terlihat masih agak lebih besar
dibanding milikmu ini.”
“Kami mulai penilaiannya, tapi kemudian Eddie kelepasan bicara kalau dia sudah
menyetubuhiku, dan itu jadi tak adil lagi karena aku sudah tahu lebih banyak dibandingkan yang
lainnya. Dan Dave juga mengatakan kalau dia juga sudah melakukannya denganku, meskipun
tidak sampai keluar. Lalu Gary mengatakan bahwa dia dan Melly juga sudah bersetubuh saat
dipantai. Hingga akhirnya Kristin memutuskan agar adilnya, semua pria harus memasukkan tiap
batang penis mereka ke dalam vagina tiap wanita, jadi para wanita akan tahu semua bagaimana
rasanya. Bukan bersetubuh atau yang lainnya, hanya memasukkannya sebentar. Dengan begitu
akan adil bagi penilaian para wanita. Kamu pikir juga begitu kan, sayang?”
Dalam kondisi normal pasti akan kutolak penjelasan logikanya, tapi perbuatan tangannya pada
batang penisku sudah berefek, dan aku hanya mampu menelan ludah lalu mengangguk.
“Jadi kami semua akhirnya setuju dan para pria mulai mengambil gilirannya. Aku mendapatkan
Alan untuk pertama kalinya, dia masukkan batang penisnya ke dalam vaginaku dan mulai
mengocoknya keluar masuk beberapa kali, agar aku bisa merasakan dan membuat penilaian.
Batang penisnya terasa lebih besar dari ukuran aslinya saat aku berhasil membuatnya orgasme.”
Aku tahu itu! Dayu terlalu mabuk untuk mengingat kebohongannya diawal tadi.
“Dan berikutnya Eddie lagi dan kemudian Gary. Mereka berdua menusukkan batang penisnya
untuk beberapa saat agar aku bisa melakukan penilaian pada batang penis mereka.”
“Lalu akhirnya giliran Dave. Dia yang paling akhir, dan dia berbisik ditelingaku kalau tak adil
jika kami tak menyelesaikan apa yang sudah kami awali di dalam mobil sebelumnya. Kemudian
dia mulai memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku. Dialah yang paling besar, itu sudah
pasti dan juga paling keras! Dan aku sudah merasa sangat terangsang setelah beberapa pria
sebelumnya, dan aku adalah wanita yang terakhir bagi Dave. Jadi aku membiarkan dia
menyetubuhiku agak lebih lama dibandingkan yang lainnya. Para wanita lainnya juga melakukan
hal yang sama pada pria yang mendapatkan giliran terakhir dengan mereka, jadi aku rasa itu
bukan masalah dan masih adil penilaiannya. Kami semua seolah saling berlomba bersetubuh
untuk beberapa waktu lamanya hingga akhirnya kurasakan spermanya menyembur hebat dalam
vaginaku. ” “Itu semua yang terjadi, sayang. Bukan masalah besar, kan?”
“Bukan,” nafasku tercekat ditenggorokan saat aku orgasme, lebih hebat dari yang pernah
kurasakan seumur hidupku.
Aku tiba-tiba merasa menyesalinya, karena itu membuatku terlihat menikamti menyaksikan
isteriku sendiri disetubuhi oleh sekelompok pria yang mereka semua dalah rekan kerjanya
sendiri. Padahal sesungguhnya aku harus merasa marah karenanya.
“Aku rasa kamu menyukainya,” jawabnya lirih.
Lalu dia membalikkan tubuhnya dan menarik selimut ke atas.
“Selamat tidur, sayang, I love you”

2 komentar: