Jumat, 28 September 2012

Petualangan Pesta Pantai (Bag 1)

Sekitar satu minggu yang lalu isteriku, Dayu dan aku diundang hadir ke sebuah beach resort
bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Isteriku bekerja pada bagian marketing di sebuah
perusahaan besar yang sangat sukses beberapa tahun belakangan, dan hal tersebut berimbas pada
kesejahteraan karyawannya yang semakin naik dan beberapa bonus juga, salah satunya adalah
perjalanan ke resort kali ini.
Aku sangat bergairah untuk pergi, meskipun dia merasa khawatir bertemu dengan rekan-rekan
kerja isteriku. Kantor Dayu bekerja sangatlah berkultur informal, dan kadang Dayu cerita padaku
tentang semua godaan dan cubitan yang berlangsung selama jam kerja. Aku bekerja pada sebuah
firma hukum, yang sangat disiplin dan professional, dan bercanda apalagi saling goda merupakan
hal yang tak bisa ditolerir dalam perusahaan. Dan hal itu mempengaruhi sikap dan perilakuku
dalam keseharian, aku menjadi seorang yang tegas dan formal. Aku tak begitu yakin bisa berbaur
dengan rekan kerja Dayu nanti.
Dayu sendiri adalah seorang wanita periang dan mudah bergaul. Berumur 30 tahun, potongan
rambut pendek seleher dan berwajah manis. Dia agak sedikit pendek dibawah rata-rata, pahanya
ramping yang bermuara pada pinggang dengan pantat yang kencang. Sosok mungilnya
berhiaskan sepasang payudara yang lumayan besar dan namun bulat kencang meskipun tanpa
memakai penyangga bra. Kami berjumpa dibangku kuliah dan menjadi dekat dalam waktu
singkat lalu menikah tak lama setelah kami lulus. Dia tak begitu berpengalaman dalam hal seks,
meskipun aku bukanlah lelaki pertama yang berhubungan seks dengannya.
Kala hari perjalanan itu tiba, kami mengenderai mobil menuju resort tersebut. Dalam perjalanan
kesana Dayu menceritakan kalau dia telah membeli sebuah bikini baru untuk akhir pekan kali
ini.
“Mau pamer tubuh ke orang-orang, ya?” candaku padanya.
“Mungkin,” jawabnya dengan tersenyum.
“Maksudmu?” tanyaku penasaran.
Dayu yang kutahu tak begitu suka mempertontonkan tubuhnya, aku selalu merasa sulit untuk
sekedar memaki pakaian renang yang minim.
“Nggak ada, bukan apa-apa” Dayu tertawa menggoda suaminya. “Sudah pernah kubilang
padamu kan kalau dikantor kita senang bercanda dan saling menggoda. Liburan ini pasti tak ada
bedanya, hanya tempat dan suasananya yang beda untuk sedikit genit didepan para pria.”
“Kamu juga genit di depan teman-teman priamu?” tanya Wisnu gusar.
“Bukan cuma aku, sayang. Semua teman wanitaku juga melakukannya kok,” jawab Dayu
menjelaskan. “Cuma sedikit genit, menggoda dan bercanda. Kamu tahu, kadang saling bercanda
mmm… yeah bercanda agak jorok, seks dan juga sedikit tontonan.”
“Tunggu, apa?” suara Wisnu agak meninggi.
“Tontonan? Kamu mempertontonkan tubuhmu ke teman-teman priamu?”
“Oh, sayang, ini bukan sungguh-sungguh,” jawab Dayu. “Cuma menggoda kok. Hanya sedikit
menyingkap baju, kadang sedikit memberi bonus dengan memperlihatkan dada sebentar.”
Aku terhenyak, isteriku memperlihatkan payudaranya pada pria lain? Pria lain di kantornya? Ini
bukan seperti sosok Dayu yang kukenal selama ini. Hanya seberapa dekat dia dengan teman
kerja prianya? Kepalaku dipenuhi oleh pikiran yang berkecamuk tak karuan hingga akhirnya
kami tiba di resort.
Segera kuparkir kendaraan kami. Begitu memasuki lobby dengan bawaan kami, sekelompok
orang melambai ke arah Dayu untuk mendekat. Mereka adalah beberapa orang dari rekan-rekan
kerjanya dan Dayu memperkenalkanku. Alan, Dave, Eddie, Gary adalah nama taman-teman
prianya dan yang wanitanya Sasha, Kristin, Melly dan Nina.
Mereka berkata pada Dayu kalau semua orang harus bertemu di kolam renang pribadi dan
minum-minum dulu sebelum berikutnya pergi ke pantai. Kami setuju untuk menyusul mereka
secepatnya setelah menaruh bawaan dikamar dan berganti pakaian.
Baru saja mereka beranjak, Alan sudah beraksi dengan mencubit pinggul Dayu yang langsung
memekik kegelian dan mendorong tubuh Alan menjauh. Aku sangat terkejut mendapati hal
tersebut dan hampir saja teriak marah, tapi mereka semua mulai tertawa, termasuk Dayu, jadi
aku pikir inilah sebagian dari cara mereka saling menggoda dan bercanda. Aku tak mau dianggap
seorang yang kolot dan tak bisa berbaur di lima menit pertama kehadiranku, jadi aku hanya diam
saja membiarkan.
Kami menuju ke kamar kami dan mulai berganti pakaian dengan pakaian renang. Dayu masuk ke
kamar mandi untuk berganti pakaian dan kemudian keluar dengan sebuah handuk membalut
tubuhnya. Aku ingin melihat apa yang dipakainya dibalik handuk tersebut, tapi dia langsung
memotongku sebelum mampu berkata sepatah kata
“Ayo, kita turun!”
Kuraih sebuah buku dan berjalan mengikutinya menuju kolam renang. Kantor Dayu pasti sudah
menyewa seluruh kolam tersebut, karena ada logo perusahaan pada semua handuk dan pada
tulisan selamat datang. Ada sekitar lima puluhan orang di area kola mini. Kebanyakan dari
mereka adalah pria, dan yang membuatku kecewa, kebanyakan dari mereka terlihat muda dan
menarik. Para wanitanya juga tak ada yang mengecewakan. Kebanyakan mereka hanya berbikini
minim memperlihatkan keindahan tubuh muda mereka.
Baru saja aku hendak bertanya dimanakah teman-temannya yang tadi, saat kulihat isteriku
sedang membuka handuk penutup tubuhnya. Apa yang terpampang dihadapanku sangat
membuatku terpaku, dibalik handuk tersebut dia memakai sebuah bikini warna merah tua dan…
sangat minim. Bagian atasnya hanya menutup sebagian depan dari payudaranya, dan tali
penahannya yang terkalung dileher jenjangnya terlihat seakan siap untuk dilepas. Sedangkan
bagian bawah hampir menyerupai thong, memperlihatkan keindahan paha dan bongkahan
pantatnya. Dia terlihat begitu menawan.
Tak heran dia menutupinya dengan handuk saat dikamar tadi, pikirku. Dia tahu kalau aku pasti
akan meributkan apa yang dipakainya. Baru saja aku hendak berkomentar namun terpotong oleh
sebuah teriakan dari seberang kolam,
“Hey, lihat Dayu!”
Dan langsung disusul oleh riuh rendah suara yang diiringi siulan nakal dari para pria di area
kolam tersebut. Dayu hanya tertawa riang lalu melakukan sebuah pose, memperlihatkan perutnya
yang rata dan kemulusan pahanya sambil mengoleskan sun-block ke tubuhnya. Dia menoleh ke
arahku dan berkata,
“Lihat kan? Hanya menggoda saja!”
Aku hanya mengangguk dan terdiam. Aku harapdia mengatakan sesuatu tentang betapa
terbukanya pakaian renang yang dia pakai ini tapi itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan,
ini tetap hanya sebuah bikini. Jika para pria ingin memandangi tubuh isteriku, apa salahnya
dengan itu? Bahkan aku bisa merasa bangga akan hal tersebut.
Aku rebah di atas bangku malas dan mulai membuka buku yang kubawa sedangkan Dayu
berjalan menghampiri teman-temannya. Aku berencana menghabiskan waktu dengan membaca,
namun mataku terus melayang ke arah dimana isteriku berada. Setiap kali aku melihat Dayu, dia
tengah asik bercanda dengan teman prianya. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti membaca, dan
hanya memperhatikan setiap tingkah lakunya sambil terus pura-pura membaca bukuku.
Di salah satu sudut kolam tersebut ada bar yang menyuguhkan berbagai macam minuman dan
sudah berulang kali aku kesana untuk sebotol bir dingin. Kelihatannya minumannya sudah
dipersiapkan dalam jumlah dan ragam yang banyak untuk membuat pesta ini berjalan meriah.
Kuamati Dayu sudah berulang kali pergi ke sana untuk segelas margaritas dan entah sudah
berapa banyak orang yang pergi mengambilkan minuman untuknya. Namun yang jelas dia
semakin bertambah mabuk seiring berjalannya waktu. Ditambah lagi para pria yang
mendorongnya dan juga para wanita lainnya untuk minum lebih banyak lagi. Pada suatu
kesempatan Dave menantang Dayu untuk berlomba menghabiskan minuman dalam gelas
mereka, yang tentu saja dimenangkan Dave dengan mudah, melihat kondisi Dayu sudah lebih
dari sekedar mabuk.
Baru saja aku mulai kembali membaca, Dayu datang menghampiri. Dia baru saja keluar dari
dalam kolam dan tubuhnya basah kuyup. Dengan kain penutup tubuh yang dia kenakan
menempel erat disetiap lekuk tubuhnya, membuat dia semakin terlihat menggoda.
“Hai, sayang,” sapanya. “Sudah lebih santai?”
“Yeah,” jawab Wisnu. “Kamu sendiri, bisa bersenang-senang?”
“Oh, ya,” dia tersenyum manja. “Aku sudah agak mabuk.”
Itu terlihat jelas, tapi aku tak mau lebih mendesaknya. Dayu mengeringkan tubuhnya dengan
handuknya, lalu melangkah kembali ke teman-temannya.
Aku kembali pada bacaanku, hingga tiba-tiba saja kudengar suara jeritan. Dengan cepat aku
menoleh ke arah suara tersebut, tepat disaat kulihat Melly yang tengah menutupi payudara
telanjangnya dengan tangannya. Salah satu dari pria tersebut menarik lepas penutup dadanya dan
sekarang tengah berlari dipinggiran kolam dengan menenteng penutup dada tersebut. Melly
mengejarnya, dengan lengan menyilang menutupi dadanya hingga si pria berhenti lalu
menangkap tubuh Melly dan menariknya bersamanya menceburkan diri ke dalam kolam.
Aku dengar sebuah suara jeritan lagi dan salah seorang wanita yang tak kukenal sekarang juga
tak berpenutup dada. Alih-alih menutupi payudaranya, kali ini si wanita hanya membiarkan saja
pria yang menarik lepas penutup dadanya itu berlari menjauh dan dia terus mengobrol dengan
temannya seakan tak terjadi apapun.
Aku memandang sekeliling untuk mencari Dayu. Dia sedang mengobrol dengan seorang pria di
kolam yang dangkal. Kuperhatikan Alan sedang berenang ke arahnya dari belakang dan muncul
tepat dibelakangnya lalu menyentakkan tali penahan penutup dadanya di leher. Penutup dada
Dayu tertarik erat menekan daging bulat kenyal tersebut dan tiba-tiba saja payudaranya terayun
meloncat lepas dari penutupnya. Dia memekik dan tubuhnya berbalik ke belakang untuk
memukul Alan. Alan mengangkat penutup dada tersebut tinggi ke atas, Dayu hanya tertawa
keras lalu melompat mencoba merebutnya. Nampak payudaranya terayun seiring tiap
lompatannya, puting merah mudanya terlihat jelas mencuat keras membuat seluruh pria dikolam
tersebut bersorak riuh.
Dave bergerak ke belakang, Dayu lalu menangkap pinggangnya dan mengangkatnya tinggitinggi
agar bisa meraih penutup dada yang dipegangi Alan. Dayu rebut penutup dada tersebut
dari tangan Alan lalu mengibaskannya pada Alan dengan tertawa genit. Dayu mulai memakai
kembali penutup dadanya, namun masih kalah cepat dengan tangan Alan yang menjulur ke
arahnya untuk meremas payudara telanjangnya yang sebelah kiri. Kembali Dayu memekik dan
menepis tangan Alan untuk menjauh.
Rupanya para wanita tak membiarkan begitu saja dengan perbuatan para pria terhadap penutup
dada mereka. Beberapa menit setelah Dave membantu Dayu tadi, nampak Melly berjalan
mengendap dibelakang Dave yang sekarang berdiri di depan Bar lalu menarik turun celana
renang yang dipakai Dave. Sebuah batang penis yang besar menyembul keluar dan seluruh
wanita menjerit riuh tak terkecuali Dayu. Dave hanya tertawa keras dan mulai mengejar Melly
yang berlari mengitari tepian kolam. Dengan konyol Dave berlari mengejr dan mengibasngibaskan
batang penisnya ke arah Melly yang berlari, menjerit dan tertawa.
Setelah beberapa menit kemudian, Dayu keluar dari kolam renang dan berjalan ke arahku.
Sebelum dia mampu mengucap sepatah kata, aku sudah memberondongnya dengan pertanyaan
tentang apa yang sedang terjadi disana.
“Oh, sayang, bukan apa-apa. Mereka hanya bersenang-senang, itu saja,” jawab Dayu.
“Aku rasa melihatmu telanjang dada dan juga menyentuh dadamu bukan sekedar bercanda
atapun senang-senang!” kataku ketus.
“Sayang, jangan terlalu kolot begitu. Lagipula aku sudah memakai penutup dadaku lagi. Lihat
para pria itu, mereka melepas beberapa penutup dada teman wanitaku yang lainnya lagi dan
sebagian dari para merka, mereka tak ambil pusing untuk memakainya lagi.”
Dia berhasil memojokkanku. Beberapa teman wanitanya sekarang sudah mondar-mandir dengan
telanjang dada, terkadang salah seorang pria akan mendekat untuk sekedar menyentuh atau
meremas payudara mereka.
“Lagipula,” Dayu membungkuk dan tiba-tiba memelankan suaranya,
“Bukankah ini membuatmu terangsang melihat para pria melirikku? Mengintip dadaku dan
menyentuhnya sedikit?”
Aku jadi terdiam karena memang itu kenyataannya. Aku merasakan rangsangan setelah melihat
para pria tersebut menggoda isterinku, namun aku juga merasakan cemburu yang sangat besar.
“Semua hanya coba bersenang-senang dan tak ada yang dirugikan,” sambung Dayu lagi. “Coba
pikirkan saja betapa nakalnya isterimu ini, membiarkan para pria melihat dadanya dan
menyentuhnya.”
Aku menganggukkan kepala pelan dan dia tersenyum lebar lalu melangkah pergi. Aku merasa
harus mengucapkan sesuatu, namun moment tersebut telah musnah. Lagipula, jika para pria
berlaku seperti itu pada semua wanita di sini, tak ada alasan bagiku untuk merasa marah. Aku
coba lagi untuk konsentrasi pada buku yang kubawa, namun tak berapa lama rasa kantuk
melanda. Aku ambil kacamatku lalu dengan cepat terlelap.
Saat aku terbangun, suasana menjadi sangat riuh di dalam kolam. Kebanyakan para wanita yang
berada disana sudah tak memakai penutup dada lagi, termasuk Kristin yang tengah berjalan lewat
di depan tempatku berada. Kristin berbadan lebih tinggi dibandingkan Dayu, tapi payudaranya
lebih kecil. Dadanya terekspos bebas, dan penutup dadanya terlihat menggantung dilehernya,
mungkin hasil usil beberapa pria yang melepaskan pengaitnya.
Aku masih merasa ngantuk namun sudah terjaga, dan dengan kaca mata yang menutupi mataku
terlihat aku masih tertidur. Aku sapukan pandangan ke seantero area kolam untuk mencari istriku
dan kusaksikan suasana sudah semakin memanas, beberapa pasang pria wanita bahkan terlihat
saling bercumbu di dalam kolam renang tanpa mempedulikan sekeliling lagi.
Akhirnya kutemukan keberadaan Dayu, yang sedang duduk dipinggir kolam dengan kakinya
masuk ke dalam air. Alan menemaninya di dalam kolam, lengannya bertumpu di atas paha Dayu.
Keduanya terlihat asik ngobrol dengan wajah yang hampir bersentuhan. Ekspresi wajah Dayu
terlihat jengah, sedangkan Alan terlihat sedang merajuk tentang sesuatu. Sebentar-sebentar
terdengar suara tawa renyah pecah dari mulut Dayu, terdengar jelas kalau dia masih dalam
kondisi mabuk.
Beberapa menit berselang, terlihat Dayu mengangkat lengannya dan mengangkat salah satu tali
penahan penutup dadanya dibahunya kemudian pelan-pelan dia turunkan dari bahunya. Alan
mengucapkan sesuatu yang kembali membuat tawa isteriku pecah. Kemuadian dia memegang
tangan Dayu dan menariknya masuk ke dalam air diantara kedua pahanya. Brengsek, umpatku
dalam hati. Apa Alan sudah membuat isteriku menyentuh batang penisnya?
Dayu memekik terkejut pada awalnya lalu kembali dia tertawa. Dia tetap membiarkan tangannya
berada di dalam air, lalu mulailah terlihat dia menggerakkan tangannya. Kembali Alan
mengucapkan sesuatu dan Dayu tertawa lagi, lalu dia angkat tangannya dari dalam air dan
menurunkan tali penahan penutup dadanya yang satu lagi dari bahunya. Dia memandang sekilas
kearahku, dan aku terdiam tak berani bergerak. Aku pasti telah membuatnya yakin kalau aku
masih tertidur lelap karena kemudian dia menoleh kembali pada Alan.
Penutup dadanya sekarang hanya bergantung ditahan hanya oleh daging bulat payudaranya saja.
Alan sekarang memandanginya tanpa sungkan-sungkan lagi dan mengobrol dengan penuh
semangat. Aku tak tahu apa yang tengah dia ucapkan, tapi melihat isteriku yang terlihat
melakukan setiap apapun yang Alan pinta, itu pasti sebuah paduan sempurna dari sebuah humor
dan rayuan. Beberapa saat berikutnya kembali tangan Dayu masuk ke dalam air. Kali ini dia
terlihat menahan nafas. Apapun yang dia pegang di dalam air tersebut, itu membuatnya terkesan.
Alan tertawa dan membisikkan sesuatu yang membuat tawa Dayu lebih pecah dengan kerasnya.
Kembali Dayu mengangkat tangannya dari dalam air kemudian meremas kedua lengannya rapatrapat.
Belahan daging payudaranya terangkat sedikit, cukup untuk membuat penutup dadanya
sedikit lebih turun lagi, membuat putingnya sekarang terekspos di hadapan mata Alan. Putingnya
yang merekah terlihat sangat keras dan mencuat menggiurkan dari bulat kenyalnya payudaranya
yang indah.
Menyaksikan hal itu membuatku sangat terkejut sekaligus merasa api birahiku berkobar hebat,
batang penisku langsung tebangun dan ereksi penuh. Aku tak bisa percayai kalau isteriku telah
mengekspos dirinya dihadapan seorang pria seperti itu, dan aku tak bisa percaya kalau diriku
sendiri merasa terangsang karena melihat kejadian tersebut. Apa yang salah dengan diriku?
Alan sangat menikmati waktunya mengamati keindahan payudara Dayu untuk bebeapa waktu,
kemudian dia membungkuk mendekat ke arah Dayu dan membisikkan sesuatu di telinganya.
Dayu tertawa genit dan kembali tangannya bergerak masuk ke air. Keduanya diam tak berbicara
untuk beberapa saat sedangkan tangan Dayu bergerak naik turun di dalam air.
Terlihat nyata kalau Dayu tengah mengocok batang penis Alan. Beberapa detik kemudian Dayu
menoleh ke arahku dengan ragu-ragu. Aku yakin jika dia melihatku bergerak, maka dia akan
langsung menghentikan apapun yang tengah dia lakukan itu, tapi aku tetap diam tak bergerak.
Aku merasa seberapa besar rasa cemburu dalam dadaku, maka sebesar itu pula keinginanku
untuk melihat apa yang akan terjadi berikutnya.
Setelah memastikan kalau aku masih tetap tertidur, Dayu turun dari tepian kolam lalu masuk ke
dalam air. Sekarang dia berdiri berhadapan dengan Alan, penutup dadanya menempel
diperutnya. Kedua tangannya kembali masuk ke dalam air lalu keduanya nampak sedikit
menggeliat untuk beberapa saat. Aku hanya mampu menebak apa yang tengah mereka lakukan
hingga celana renang Alan tiba-tiba saja muncul dari dalam air disamping tubuhnya. Dayu telah
melepaskannya!
Keduanya tertawa berbarengan, lalu kembali Dayu memasukkan tangannya kedalam air. Nafas
Alan mulai terlihat berat dan tatapan matanya terpaku pada payudara indah milik isteriku. Dayu
hanya tertawa genit atas tatapan mata Alan pada payudaranya tersebut dan bahkan beberapa kali
nampak dia sedikit menggoyangkan dadanya untuk memberikan sedikit tontonan pada Alan.
Dayu mulai menggerakkan tangannya naik turun dengan cepat dan semakin bertambah cepat,
sementara itu Atatapan mata Alan tak pernah lepas dari payudara isteriku. Tiba-tiba Alan
memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya. Dayu melihat ke bawah dan
menatap air seakan terhipnotis saat Alan mulai menggelinjang. Setelah beberapa saat dia
berhenti menggelinjang dan membuka matanya kembali. Lalu Alan membisikkan sesuatu
padanya yang membuat Dayu menjerit dengan nada genit marah dan mendorong Alan menjauh.
Alan tertawa dan menggenggam celana renangnya, sedangkan Dayu memakai penutup dadanya
kembali.
Aku sudah tak yakin lagi apakah yang mampu membuatku terkejut lagi, menyaksikan isteriku
memasturbasi pria lain didepan mataku ataukah kenyataan bahwa tak ada seorangpun yang
memperhatikannya. Melihat sekeliling, kusaksikan begitu banyak orang yang saling mencumbu,
dan aku rasa mereka berdua merasa sangat yakin kalau tak ada seseorangpun yang
memperhatikan apa yang mereka perbuat. Aku bertanya kalau diriku masih seorang pria lugu dan
kolot lagi sekarang, benarkah begitu? Benakku menjawab, masih, namun batang penisku yang
ereksi berkata tidak.
Setelah setengah jam berikutnya, Kristin berdiri, masih bertelanjang dada mengumumkan bahwa
saatnya untuk pergi ke pantai telah tiba. Perusahaan telah menyewa beberapa van untuk
mengangkut semua orang disana dan tidak memperbolehkan memakai mobil sendiri.
Aku pura-pura baru bangun dari tidurku saat Dayu berjalan mendekatiku. Dia masih agak
mabuk, jika tak mau dikatakan mabuk dan kuputuskan untuk melihat apakah dia akan
mengungkapkan semuanya.
“Ada yang terjadi lagi saat aku tertidur?”
“Tak begitu banyak, sayang,” jawabnya.
“Ada lagi yang mencuri lepas penutup dada?” desakku.
“Kenapa?” tanya istriku dengan nada menggoda. “Apa kamu ingin dengar tentang itu?”
“Mungkin,” jawabku, meskipun dengan cara penyampaiannya itu membuatku terdengar sangat
ingin mendengarnya.
“Well, tak ada lagi yang mencuri lepas penutup dada, tapi Alan masih ingin melihat payudaraku
dan dia terus merajuk. Jadi kupikir dia juga sudah melihatnya, aku memberinya sedikit bonus
lagi.”
“Oh,” jawabku.
“Jadi kuturunkan sedikit penutup dadaku dan membiarkan dia melihatnya. Tapi hanya itu saja.
Tak apa-apa kan sayang? Kamu tak marah padaku karena sudah memperlihatkan payudaraku
sebentar pada teman priaku?” jawabnya dengan nada merajuk.
“Aku rasa begitu…” jawabku datar.
Aku sedang membayangkan dia memasturbasi Alan.
Kami mengemasi handuk kami dan kemudian berjalan mengikuti yang lain menuju ke area
parkir. Kami masuk ke dalam van yang semua orang di dalamnya tak kukenal lalu mulailah kami
berangkat menuju ke pantai. Jalanan yang dilalui sangat jelek dan membuat van yang kami
tumpangi terlonjak-lonjak, namun aku tak begitu merasakannya karena aku tengah fokus pada
usaha untuk mengingat apa yang kusaksikan pada Dayu dan Alan tadi.
Saat tiba di pantai, kuperhatikan kalau perusahaan juga sudah mengeset sebuah erena untuk
permainan bola voli lengkap dengan net-nya dan segera saja Kristin dan Nana sudah berinisiatif
untuk memuali sebuah pertandingan. Kuputuskan untuk rebah diatas pasir saja dan melihat,
berusaha untuk menata perasaan dan melegakan himpitan dalam dada, sedangkan Dayu langsung
bergabung dalam permainan. Kedua team terbagi dalam kelompok wanita dan pria. Sebenarnya
pertandingan tersebut menyenangkan untuk disaksikan karena para pemainnya ternyata lumayan
mahir dan juga karena para wanita terlihat begitu menawan saat melompat dalam balutan bikini
minim mereka. Seiring jalannya pertandingan, suasana semakin bertambah panas, kata-kata
jorokdan ejekan penuh sendau gurau terus bersahutan.
Sekarang tibalah saatnya bagi isteriku untuk serve.
“Siap-siap guys, kali ini kalian ak akan bisa mengemblikan!” teriaknya.
“Kamu mau bertaruh untuk penutup dadamu?” teriak Eddie membalas.
Langsung terdengar riuh rendah suara menyambut dari para penontonnya. Dayu terdiam
beberapa saat, mimik wajahnya menggambarkan ekspresi yang sangat seksi kemudian belas
menyahut,
“Kalau kamu tak bisa mengembalikannya, kamu harus melepas celanamu!”
“Ok, tapi itu tak akan terjadi sayang!” balas Eddie.
Dayu merespon dengan melempar bola ditangannya tinggi-tinggi dan mengirimkan sebuah serve
yang sangat kuat. Aku tak yakin berapa banyak rekan kerjanya yang tahu, kalau dia saat kuliah
dulu termasuk andalan dalam team bola voli. Bola tersebut mengarah sangat sesuai dengan yang
dia inginkan, mendarat dengan tajam diantara dua pemain yang paling payah.
Para wanita bersorak menyambutnya sedangkan para pria terlihat menepuk kepalnya sambil
mengerang kesal. Eddie bersiul dan menghadap ke arah Dayu, kemudian mencengkeram
celananya kemudian menurunkannya. Batang penisnya tak sepanjang milik Dave namun jauh
lebih besar. Benar-benar cukup besar untuk mengundang siulan dan teriakan dari para wanita.
Dayu menatapnya dengan senyum birahi tergambar pada wajahnya. Belum pernah dia menatap
batang penisku dengan ekspresi seperti itu sebelumnya.
Dayu bersiap untuk serve berikutnya dan berteriak pada seorang pria yang tak kukenal,
“Hey, Don! Mau bertaruh yang sama juga?”
Doni melihat ke arah Eddie, lalu beralih ke dada isteriku dan kemudian menjawab,
“Tentu saja!”
Dayu memberikan sebuah serve penuh tenaga lagi, namun kali ini para pria sudah lebih siap
menyambutnya. Salah seorang pria melompat menyambut datangnya bola, bola tersebut
melayang cukup tinggi bagi Dave untuk menyambutnya dengan smash yang keras. Para wanita
terlihat terkejut dengan serangan tersebut, dan begitu bola mendarat mulus diatas pasir, para pria
berteriak menyambutnya,
“Lepas! Lepas!”
Dayu menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganna, dia tertawa malu, lalu tangannya
bergerak kebelakang tubuhnya untuk melepaskan penutup dadanya. Dia menahannya didada
untuk beberpa saat dan kemudian melepas kain penutup dada tersebut ke samping. Payudara
bulat indahnya yang dihiasi putting merah mencuat terpampang jelas tanpa penghalang lagi. Para
pria mulai bersiut dan berteriak menyambutnya, sedangkan Dayu tampak memerah wajahnya
dan tertawa.
Dayu memainkan sisa pertandingan dengan bertelanjang dada, membuat semua orang
mendapatkan sebuah tontonan indah. Setiap kali dia berlari atau melompat untuk mengembalikan
bola, payudaranya akan memantul dengan seksi. Kuperhatikan semua selangkangan para pria
terlihat menonjol karena ereksinya melihat semua gerakan isteriku, khususunya Eddie.
Tak lama kemudian game tersebut berakhir dengan kemenangan dipihak team isteriku. Dayu dia
berjalan memungut penutup dadanya, tapi tak memakainya kembali. Lalu dia berjalan
menghampiri Eddie, yang baru saja mengambil celananya. Kuamati dia agak merentangkan
punggungnya ke belakang, membuat payudaranya lebih menonjol kedepan. Mereka mulai
mengobrolkan sesuatu, dan kuperhatikan pandangan isteriku lebih sering tertuju pada batang
penis besarnya Eddie dan mata Eddie seakan juga tak mau lepas dari dada isteriku.
Eddie mengucapkan sesuatu, lalu mendorongkan batang penisnya kearah isteriku. Dayu tertawa
genit dan menggelengkan kepalanya, tapi pandangannya tak beralih dari batang penis tersebut.
Eddie tetap pada posisinya, tak bergerak dan setelah beberapa lama tangan isteriku menggapai ke
depan dan menggenggam batang penis milik Eddie. Dia memeganginya sejenak, kemudian dia
sedikit menggoyangkannya dan dia tertawa senang.
Eddie juga tertawa, kemudian tangannya terjulur kedepan dan menarik bagian depan dari kain
penutup selangkangan yang dipakai Dayu. Dia membungkuk kedepan untuk mengintip vagina
isteriku, sedangkan Dayu menjerit malu namun tak berusaha menghentikannya.
Tiba-tiba saja Eddie menyentakkannya turun hingga ke pergelangan kaki isteriku. Dayu menjerit,
membuat semua orang menoleh ke arahnya dan menyaksikan vaginanya yang dihiasi rambut
tercukur rapi terekspos penuh. Tubuh indah isteriku telah telanjang seutuhnya sekarang, dan
ekspresi malunya semakin membuatnya terlihat sangat cantik.
Dengan cepat Dayu menaikkan penutup tubuh bawahnya dengan diiringi sorakan para pria,
namun dia tak memakai kembali penutup dadanya. Matahari sudah mulai beranjak ke
peraduannya sekarang, lalu Kristin meminta semua orang untuk kembali ke resort, semuanya
diminta untuk berkumpul kembali di hot tub jam 10 nanti.
Kami mulai berkemas dan berjalan menuju mobil, kami berjalan dengan santai dan saat kami
tiba ke tempat parkir, yang tersisa hanya sebuah mini-van kecil dan orang yang masih ada
berjumlah delapan orang. Iseriku adalah satu-satunya wanita dikelompuk ini dan pria yang
kukenal dalam grup ini hanyalah Gary dan Dave. Garry naik ke kursi pengemudi dan menyuruh
kita semua untuk segera masuk ke dalam mobil.
Barusaja aku hendak menyuruh isteriku agar duduk di kursi belakang, namun Dave yang berada
dikursi depan berkata, “Hey, Dayu, duduk disini saja, kupangku! Biar semuanya cukup.”
Dayu sama sekali tak melirikku untuk meminta persetujuan.
“Oke,” dia tertawa manja, “Tapi jangan macam-macam!”
Kemudian dia naik ke pangkuan Dave, dengan masih hanya memakai penutup tubuh bawahnya
saja. Para pria yang lainnya dengan cepat saling berebut naikke kursi tengah, membuatku
terpaksa duduk jauh dibelakang.
Semua orang kecuali aku dan Gary sudah dalam keadaan lumayan mabuk. Aku duduk
dibelakang, disamping seorang pria yang keadaannya sudah mabuk berat, dan berbicara tentang
sepak bola dengan suara yang sangat keras. Semua orang nampak asik dengan topik yang
diangkat pria ini, jadi ada empat orang pria yang mabuk saling teriak satu sama lainnya dalam
mini-van ini.
Aku tak begitu ingin ikut masuk dalam pembicaraan mereka, karena aku ingin konsentrasi
mengawasi isteriku yang berada di depan. Aku tak mau Dave mengambil kesempatan dlam
situasi ini. Sudut pandangnku sangat kurang menguntungkan dan aku harus membungkuk ke
depan untuk dapat melihat apa yang terjadi dikursi depan.
Pada awalnya kulihat isteriku nampak bersandar ke tubuh Dave di belakangnya, yang berusaha
memasang sabuk pengaman ke tubuh mereka berdua. Itu membuatnya harus meraih kedepan dan
tangannya menyentuh payudara Dayu karenanya. Dave melakukannya lebih lama dari yang
seharusnya, tapi Dayu hanya membiarkannya saja.
Kami mulai memasuki jalanan yang jelek, membuat mini-van ini melompat-lompat dan yang
berada didalamnya terguncang. Ditengah guncangan yang terjadi itu kuamati tangan Dave yang
semula berada di dada Dayu bergeser ke pahanya. Keduanya asik mengobrol dan tertawa-tawa,
tapi karena keberadaanku di belakang dan ditambah pula suar berisik para pria mabuk ini yang
membicarakan sepak bola dengan sura yang keras membuatku dapat mendengar apa yang tengah
dibcarakan Dayu dengan Dave.
Satu dari pria mabuk ini menoleh padaku dan bertanya tentang team sepak boal favoritku. Aku
berusaha untuk tetapa fokus pada kejadian di kursi depan, tapi aku tak ingin menarik perhatian
para pria mabuk ini. Jadi kujawab pertanyaaan pria tersebut dan mulai masuk dalam perbicangan
tentang sepak bola ini. Jalanan yang kami lalui bertambah semakin parah, dan aku harus susah
payah menjaga posisiku agar tetap stabil dan pada perbincangan tersebut.
Saat akhirnya aku bisa melirik ke arah depan lagi, kuperhatikan Dayu dan Dave sudah tak
memakai sabuk pengaman lagi. Tak ada yang kelihatan aneh. Tangan Dave masih berada
dipinggang isteriku, meskipun sekarang posisi duduk Dayu agak lebih naik di pangkuan Dave
dan terguncang naik turun. Kupikir guncangan tersebut disebabkan oleh buruknya kondisi jalan,
namun saat mobil berhenti dilampu merah, kuperhatikan tubuh Dayu tetap bergerak naik turun.
Aku tak bisa melihat ekspresi keduanya dan tiba-tiba saja sebuah prasangka buruk menyergap
otakku, mungkin saat ini Dave sedang menyetubuhinya. Kecurigaanku semakin besar saat
kuamati mereka berdua sama sekali diam tak saling bicara.
Disisa perjalanan aku membungkuk ke depan dan mengamati tubuh isteriku terayun naik turun,
menerka-nerka tentang kemungkinan kemungkin yang terjadi dikursi depan. Setelah sekitar dua
puluh menitan, mobil berbelok arah dan sudah tampak resort di depan.
Aku yang paling terakhir keluar dari dalam mobil dan aku bergegas menyusul Dayu yang sudah
berjalan didepan bersama Dave dan Gary. Saat akhirnya aku berhasil menyusulnya, kuperhatikan
kalau wajahnya tampak memerah dan dia sedikit berkeringat.
“Hey,” kataku, saat semua pria sudah berjalan menjauh didepan. “Apa yang sudah terjadi dikursi
depan tadi?”
“Apa? Apa yang sudah kamu lihat?” tanyanya, terdengar terkejut namun juga bersemangat.
“Aku tak bisa melihat, tapi kuperhatikan kalau Dave terlihat sangat menikmati keadaannya,”
jawabku mencoba berkilah.
“Jangan marah, sayang, kami hanya bercanda saja,” dia mulai menjelaskan.
“Dave terus mengeluh tentang celananya yang sangat sesak, jadi aku menyuruhnya untuk
menurunkannya sedikit kalau dia mau. Sebenarnya aku cuma bercanda dan bermaksud
menggodanya saja. Aku tak bermaksud agar dia benar-benar melakukannya, tapi dia sungguhsungguh
melakukannya. Andai saja kamu melihat betapa batang penisnya sungguh sangat besar
” terangnya dengan suara pelan namun punuh gairah
“Sayang, batang penisnya itu sungguh besar. Aku menggeseknya dengan pantatku beberapa saat.
Lalu dia sepertinya menarik penutup tubuh bawahku kesamping dan kepala penisnya menyelinap
masuk ke dalam bibir vaginaku begitu saja. Aku rasa itu tak sengaja. Dan kamu tahu kondisi
jalannya yang sangat parah kan? Tubuhku jadi terangkat naik turun dan itu membuat batang
penisnya semakin masuk bertambah dalam, hingga akhirnya… kamu mungkin tak percaya
sayang, batang penisnya jadi masuk semuanya! Tapi baru sebentar saja aku merasakan vaginaku
terisi penuh, mobilnya menghantam gundukan yang besar dan batang penisnya jadi tercabut
keluar begitu saja, lalu kubetulkan lagi penutup tubuh bawahku dan selesai, itu saja.”
Ekspresi wajahnya jadi bergairah dan menghiba disaat yang bersamaan.
“Tak apa-apa kan sayang? Bukan masalah besar kan? Ini benar-benar kecelakaan dan lagipula
dia tak sampai keluar.”
Aku sama sekali tak mampu bicara. Isteriku telah berterus terang dengan sangat gamblang kalau
dia baru saja menyetubuhi seorang pria. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku tak mungkin
membuat keributan besar di resort ini, di hadapan semua orang.
“Yah… kalau dia tak sampai keluar, kurasa itu tak maslah,” akhirnya jawabku lirih.
“Kamu sungguh suami yang sangat pengertian sayang!” teriaknya senang sambil memelukku.
“Ayo, kita cari sesuatu untuk makan malam!”

1 komentar: